Monolog di Suatu Pagi

*Now playing: Adele – All I Ask*

 

Kamu lagi-lagi merobek hati saya, Lex. Kali ini saya benar-benar mundur dari permainanmu. Masih teringat jelas di benak saya, bagaimana kamu muncul di kehidupan saya sebagai sebuah figur yang menyenangkan dan yang paling mengerti saya. Sejak hari itu isi kepala kita beresonansi dalam satu frekuensi gelombang yang sama. Tidak ada yang mengerti apa arti leluconmu, begitupun milikku. Namun kita saling menertawakan kekonyolan satu sama lain.

Lalu Josephine mencoba bangun dan duduk di atas ranjangnya, ditariknya selimut yang telah berantakan itu sampai menutupi pundaknya. Sembari bersender ke dipan ranjang, ia pun mulai memeluk bantal guling sembari mulai bermonolog dengan pikirannya.

Entah apa sebabnya, kamu meninggalkan saya begitu saja. Ketika wanita itu datang dan mengejarmu dengan langkah sigap, kamu pun menyambutnya dengan tangan terbuka, dan pergi meninggalkan saya begitu saja. Saya pun heran kemana perginya semua canda tawa itu, tiba-tiba kamu menjadi dingin dan seolah-olah tak pernah mengenal saya lagi. Waktu itu saya pikir mungkin kamu sedang di mabuk asmara, jadi saya bergegas mundur karena tidak seharusnya saya masih berdiri di garis yang sama.

Josephine pun bergerak dari tempat tidurnya ke arah nakas yang berada tepat di samping kiri kasurnya. Diambilnya segelas air putih dan diteguknya sampai habis. Sesekali ia mengecek smartphone untuk sekedar melihat ada foto apa saja yang muncul di feed Instagramnya pagi itu. Tidak lupa ia mengecek WhatsApp messenger-nya, sepertinya ada beberapa pesan yang belum dibalas sejak tadi malam. Namun belum sempat ia membalas satu per satu, perhatiannya malah tertuju pada sebuah histori pesan dari salah satu kontaknya, Alex.

Lalu di suatu pagi, kamu mendadak kembali. Kamu yang telah hilang beberapa waktu terakhir seakan-akan kembali secara utuh, kamu bukan miliknya lagi. Saya merasa kali ini berbeda, kita pasti bisa bersama. Entah sudah setinggi apa harapan yang saya pasang serta doa yang tak henti-hentinya saya panjatkan. Kita seperti dulu lagi. Sesekali muncul namamu disertai dengan simbol gagang telepon di layar telepon saya. Kita menertawakan hal yang serius, terkadang berbicara tentang harapan, tentang misteri, serta mimpi di masa depan. Ya, kamu memang gemar menggambar mimpi, begitupun dengan saya, namun saja saya tidak pernah mengizinkanmu untuk mengintip bagaimana mimpiku… sebab di situ ada kamu, dan saya terlalu malu jika kamu tahu.

Digesernya histori pesan yang sedang dibuka ke arah atas, begitu banyak topik yang mereka bicarakan, pun tidak lupa berapa banyak gambar yang saling mereka bagikan. Sedekat itu, namun pria ini tidak pernah tahu seutuhnya bagaimana isi hati sang wanita. Ia terlalu sibuk menceritakan hidupnya, dan Jo terlalu terpana mendengarkannya. Konyol sepertinya jika diingat-ingat, betapa seorang wanita rela mengikuti keinginan seorang pria, mengenyampingkan egonya untuk bercerita, menghampiri pria itu untuk sekedar makan bersama, atau bahkan mendoakan pria itu tanpa putus asa. Padahal semua begitu jelas, Jo….

Waktu kelam itu pun tiba, ternyata Yang Kuasa sudah tak tahan lagi melihat tingkah saya yang selalu menentang-Nya. Kamu mendadak berubah seperti sedia kala. Tidak jelas kapan waktu yang tepat untuk menghubungimu, entah harus bicara tentang apalagi agar kamu mau duduk diam dengan saya. Mungkin ini hanya perasaan saja, saya yakin kisah buruk waktu itu tidak akan terulang. Tidak akan.

Lalu ia menutup meletakkan smartphone-nya kembali. Josephine kembali meringkuk dalam gulungan selimut. Ia sudah terlalu letih berperang dengan isi kepalanya, ingin sekali ia mundur, tapi perasaannya enggan menyudahinya. Ada terlalu banyak memori serta pertanyaan yang belum sempat terjawab. Sudah hari ketiga sejak ia tahu bahwa Alex kembali meninggalkannya untuk seorang wanita lain. Entah siapa wanita ini, tidak pernah sedikit pun ia pernah menyebutkan namanya, tapi yang ia tahu sekarang Alex sudah dua kali menyakiti hatinya. Josephine hancur….. lagi.

Siapa dia? Lalu bagaimana dengan kita? Begitu mudahnya kamu meninggalkan saya dan bercengkrama dengan makhluk hawa lainnya. Kamu yang pernah membuat saya berpikir bahwa kesempatan kedua itu ada, namun kamu juga yang membuat saya sadar bahwa ini semua hanya sia-sia. Sepertinya saya memang benar-benar harus pamit dari hidupmu, Lex, bahkan kini untuk sekedar menjadi temanmu pun saya enggan. Saya rela jika kamu kini mendamba nama lain, sebab saya belajar mulai perlahan meninggalkan kamu di simpang angan.

Sembari menghembuskan nafas panjang, Josephine berjanji untuk selalu melindungi dirinya dari terkaman serigala lain. Ia berjanji untuk kembali, tubuhnya perlu untuk diberi konsumsi, wajahnya perlu diberi pemerah pipi lagi.

“But there’s a danger in loving somebody to much,

and it’s sad when you know it’s your heart you can’t trust

There’s a reason why people don’t stay where they are

Baby, sometimes love just ain’t enough.”

(lyrics of Sometimes Love Just Ain’t Enough – Patty Smith ft Don Henley)

 

Setelah menghapus air mata terakhir yang berlinangan di pipi hingga ke bibir keringnya, Josephine pun bangun dan beranjak dari tempat tidurnya.

939274e3954c814657e987a3b0278823
Picture credit: Pinterest

 

 

 

Leave a Reply