Masih, sampai saat ini

Hari ke-sebelas di bulan April 2015, tepat pukul 12.00 siang. Luna, begitu ia disapa, asyik menatap layar laptop-nya sambil menyeruput secangkir English Breakfast. Masih di tempat yang sama, sebuah kedai kopi di kawasan Bintaro, tepat di sudut yang sama. Entah berapa kali dalam seminggu ia datang ke tempat ini. Pikirnya hanya di sinilah tempat satu-satunya di mana ia bisa melepaskan rindunya akan Bayu. Sudah berbulan-bulan ia menanti kepulangan pria itu, masih dengan kesetiaan yang sama, harapannya pun tak kunjung surut.

“Udalah, Lun. Lo mau sampe kapan kayak begini terus?”

Telinga Luna mungkin sudah lelah mendengar ucapan itu. Namun mereka tidak mengerti, wanita ini punya keyakinan yang sangat tinggi. Bayu akan segera pulang, toh studi yang diambilnya akan selesai tahun depan. Sepulangnya dari Amsterdam, Bayu akan langsung memperistrinya. Setidaknya begitulah janji pria itu padanya. Apa daya, orang di sekitarnya bersikukuh meminta Luna untuk melupakan pria itu.

“Lun, pelan-pelan belajar move on yah. Lo ga usah nungguin Bayu lagi.”

Apa salah Bayu? Apa mereka tidak bisa melihat betapa tulusnya pria itu? Mungkin mereka tidak pernah tahu, Bayu-lah yang selalu membangunkan Luna di pagi hari. Begitu besar perhatian Bayu, yang setiap pagi menelepon Luna, agar wanita itu bisa bangun dan tidak terlambat tiba ke kantor. Bayu tahu persis bahwa wanita yang dicintainya ini sangat sulit bangun pagi. Mungkin mereka tidak pernah tahu, Bayu-lah yang selalu mengirimnya e-mail romantis di pagi hari untuk menambahkan semangatnya.

Mungkin mereka juga tidak pernah tahu, Bayu-lah yang setia menemani Luna menyelesaikan pekerjaan sampingannya sebagai seorang freelance graphic designer. Setiap Sabtu, mereka tidak punya banyak waktu untuk selalu pergi memadu kasih seperti layaknya pasangan lain, yang bisa pergi ke restoran mahal atau sekedar menonton film di bioskop. Secangkir English Breakfast dan secangkir kopi hitam sudah cukup untuk membahagiakan pasangan ini di akhir minggu. Luna dengan pekerjaannya, Bayu dengan kamera analog–nya, yang terlalu sibuk memotret gerak-gerik serta air muka Luna. Semua dilakukan di kedai ini, di sudut ini.

“Iya gue ngerti, tapi lo ga boleh begini, Lun. Ini udah hampir setahun.”

Ya, Luna tahu. Ini sudah tahun ketiga Bayu tinggal di Amsterdam. Ia akan kembali dan menetap di Jakarta tahun depan. Lihat saja, kepulangan Bayu akan menjadi bukti bagi semua orang yang meragukan kesetiaannya. Tahun depan, namanya akan berubah menjadi Ny. Bayu Hartono. Sudah jelas dalam angannya, ia dan Bayu akan memulai hidup di apartment berukuran studio dan memiliki seorang anak. Sesaat setelah sang anak berusia 1-2 tahun, mereka akan pindah ke sebuah rumah kecil dengan kehangatan. Sudah tidak sabar rasanya membuat semua impian tersebut menjadi nyata. Nanti, tunggu saja, sebentar lagi.

***

Hari ke-tujuh belas di bulan Juli 2014. Malam itu telepon di rumah Bayu berdering tak kunjung henti. Suara yang didengar dari ujung kabel telepon itu membuat lutut Ibu Bayu langsung lemas tak berdaya. Dengan tenaga terakhirnya, ia meminta Ayah Bayu untuk menyalakan televisi, sesaat sebelum akhirnya semua menjadi gelap. Breaking news malam itu cukup menghancurkan hati Ayah Bayu, sebuah pesawat dengan penerbangan dari Amsterdam menuju Kuala Lumpur dinyatakan hilang. MH-17, ya, itu pesawat yang ditumpangi Bayu. Rencanya ia akan menghabiskan liburan musim panas kembali ke tanah air, tiket pesawat yang telah dipesannya seharusnya bisa menerbangkan Bayu ke Kuala Lumpur, sehingga ia bisa melanjutkan penerbangan ke Jakarta keesokan harinya. Namun apa daya…

Malam itu, seperti biasa Luna sibuk lembur di kantor, ia sudah tidak sempat lagi mengecek berita di handphone, apalagi untuk menonton televisi. Lagipula, tidak ada yang sampai hati untuk memberi tahu kabar ini. Sampai pada akhirnya, sang Ibu memaksanya untuk segera pulang, dengan alasan minta diantar ke dokter. Aneh sebenarnya. Selama ini, sang Ibu tidak pernah memaksa Luna untuk mengantarnya ke dokter.

“Ya sudahlah. Saya pulang sekarang ya, Bu. Ibu siap-siap dulu, jangan lupa pakai baju yang agak tebal,” ucapnya.

Perjalanan dari kantor menuju ke rumah memakan waktu sekitar 30 menit. Bergegas ia masuk ke ruang keluarga dan mendapati keluarganya sedang menyaksikan tayangan breaking news di salah satu televisi swasta Indonesia.

Hancur.

Siapa yang kuasa membendung air mata, sudah setahun semenjak kepulangan Bayu dari liburan musim panas tahun lalu. Bahkan Luna sudah berjanji akan menjemput Bayu di bandara esok malam. Ia sudah memilih baju terbaik yang akan ia kenakan, mereka berencana untuk menghabiskan makan malam bersama di sebuah restoran. Sebuah momen langka bagi pasangan ini, betapa tidak sabarnya mereka untuk menunggu momen itu. Tapi Tuhan berkehendak lain.

Luna jatuh tersungkur dan tak sadarkan diri, ia masih tak percaya ini semua terjadi. Hari demi hari, bulan demi bulan tetap ia nanti, berharap ini semua hanyalah mimpi, berharap ini hanyalah sebuah lelucon di bulan Juli. Ia masih yakin Bayu akan kembali dan menepati semua janji. Luna masih menghabiskan waktunya di kedai kopi, tempat yang selama ini menjadi saksi. Bahkan setelah hampir setahun setelah kepergian sang lelaki, ia masih menunggu sampai saat ini…

 cdd9dfbe0780e428f57bee04eb662a6b

Leave a Reply