Kamu

*Now playing: Phil Collins – Groovy Kind of Love*

Cuaca siang itu cukup cerah, semilir angin di penghujung tahun mengiringi langkahku yang menyusuri jalanan di sepanjang taman kota. Berjalan dan berjalan dan … berpikir, mengapa aku harus menghindarimu kala itu. Mungkin aku yang terlalu malu untuk jujur pada perasaanku, sehingga kamu seakan-akan tidak pernah hadir di hidupku.

Masih ingatkah kamu? Kamu dan sifat impulsifmu, membawaku pergi jauh dari kota hanya untuk menghilangkan penat di kepalamu. Urusan kuliah membebani pikiran, katamu. Kita pergi untuk menghirup udara puncak, meneguk secangkir wedang jahe, lalu kembali lagi ke Jakarta di hari Minggu.

Masih ingatkah kamu? Saat hujan lebat hari itu, kita berlarian dengan tawa dan mereka pun bisa melihat jelas dari semburat wajahmu. Kamu yang tidak peduli terlihat bodoh karena kamu tahu, aku menerima apa adanya kamu.  Kamu menginjak kubangan air dan tertawa lepas, tak peduli hal itu akan mengotori sepatumu.

Masih ingatkah kamu? Kita sering berlari bersama mengitari stadion kala itu. Kamu bersikeras memaksaku, namun aku terlalu lemah untuk mengikuti langkah kakimu. Setiap kali kamu selesai mengitari stadion, kamu bertindak seolah-olah seorang pemenang dalam kejuaraan marathon. Orang melihat tingkah konyolmu, namun kamu malah berlari menghampiriku, mengajakku untuk masuk dalam sandirawa kecilmu.

Namun…

Masih ingatkah kamu? Saat kamu melihat gadis itu, kamu terjerat akan senyum manisnya. Kamu tidak bisa berhenti memikirkannya, membicarakan tentangnya di depan mataku. Kamu tidak tahu betapa kecewanya aku.

Masih ingatkah kamu? Ketika kamu mulai mengejar gadis itu. Kamu mulai meninggalkanku saat malam minggu. Lalu kamu akan bercerita, kalian pergi menyusuri kerlipnya Ibukota hari itu. Ia berhasil menaklukan hatimu. Kamu tidak tahu betapa sakitnya aku.

Masih ingatkah kamu? Akhirnya kamu mengutarakan perasaanmu. Kamu memperkenalkannya padaku, kamu menggenggam tangannya malam itu. Tampak jelas senyum tulus di wajahmu, betapa kamu mencintai gadis itu. Kamu tidak tahu betapa hancurnya aku.

Aku tidak sanggup melihat kebahagiaanmu. Sebut saja aku obsesif, sebut saja aku egois, namun sungguh.. aku tak sampai hati melihatnya berhasil menorehkan senyum di wajahmu. Kamu tidak tahu, betapa aku berharap itu adalah aku. Tak sanggup rasanya hidup dalam kepura-puraan, maka aku putuskan untuk menghindarimu. Pergi jauh dari hadapanmu, membiarkanmu menikmati kebahagiaanmu, seolah-olah aku tak peduli dengan keberadaanmu, seolah-olah aku tak pernah mengenal kamu.

Tak terasa sudah hampir lima bulan aku bermain dengan waktu. Besok aku akan pergi meninggalkamu, aku mulai berpacu dengan waktu, tidak sampai 24 jam lagi aku punya kesempatan untuk melihat wajahmu. Tak lama, bunyi tanda pesan masuk dari handphone-ku, itu kamu.

“Lo besok uda ga di sini lagi? Kok ga bilang-bilang.”

“Iya. Gue besok pulang ke Makassar.”

“Gila lo. Kenapa ga ngabarin gue? Besok flight jam berapa?”

“Gapapa. Besok check in jam 2 siang.”

“Okay, jangan masuk sebelom ketemu gue. See you.”

“See you.”

 

Lagi.

Kamu lagi-lagi berlari di pikiranku. Aku pikir kamu tidak peduli lagi denganku, namun ternyata tidak. Kamu masih kamu, kamu yang menganggapku sebagai teman terbaikmu. Walaupun aku berharap lebih dari itu.

***

Hari ini waktunya. Aku masih menunggu di pintu keberangkatan, seperti permintaanmu. Seperempat jam lamanya, lalu kamu muncul dari arah jam tujuh. Kamu berjalan perlahan ke arahku, tak lupa tersisip seuntai senyum manis di bibirmu.

“Lo kenapa mendadak? Kenapa ga ngabarin gue? Lagian kenapa tiba-tiba ilang begitu aja deh?”

“Gapapa, gue cuma ga mau gangggu pasangan lagi di mabuk cinta aja.”

“Anjrit, apaan sih lo, yah kan gue tetep butuh lo. Lo sahabat gue, ada pacar, tapi ga ada sahabat tuh kurang banget.”

Aku hanya bisa tersenyum pahit mendengar ucapanmu. Sahabat, katamu.. hanya sebatas itu? 

“Eh lo kenapa diem aja deh? Come on. Lo kayak orang tua aja deh, banyak pikiran.”

“Gapapa,” ucapku. “Sorry ya. Gue ga ngabarin lo kalo mendadak gini. Gue cuma ga mau makin berat ninggalin Jakarta kalo ada perpisahan kayak gini.”

“Gue kaget banget lo mendadak pergi. Padahal gue punya banyak cerita tentang Nina yang pengen gue ceritain ke lo, tapi lo mendadak ilang, sekarang malah mendadak pergi.”

“Iya, sorry ya Joe… hmm… gue harus check in sekarang. Kalo ga, bisa ketinggalan pesawat.”

“Duh buru-buru banget sih, belom puas gue ketemu lo. Bentar lagi ya?”

“30 menit lagi uda harus boarding.”

“Yah, okay deh. Ntar kabarin ya kalo uda sampe. By the way, safe flight ya, Steve.”

“Iya, thank you, Joe.”

 

Lalu aku berlalu membelakangimu, aku tak sanggup mengutarakan perasaanku. Aku tak mau mengecewakanmu, karena aku hanya dan selalu menjadi sahabatmu, Joe. Kamu tidak akan mungkin menjadi milikku.

4324b8d1af610c224aef3f8628f9a70c

Leave a Reply