Belajar

*Now playing: City Harvest Church – Be With You*

 

Hi, it’s been a while ya!

I am stuck with jobs, things are running a bit much now, and that’s why I haven’t shared any stories recently.

Okay, jadi kali ini saya ingin berbagi kisah mengenai sebuah pelajaran unik yang saya dapat dari (lagi-lagi) complain mengenai hidup saya. Jadi, baru-baru ini saya baru sadar kalau selama ini sedang belajar banyak dari sebuah masalah. Nah lho? Memangnya kenapa, Fin?

Haha.

Saya tidak bisa ceritakan secara gamblang di sini, because it’s a blog, and I don’t allow myself to share personal problems on public. Tapi kira-kira begini, saya dihadapkan dengan sebuah masalah sejak tahun lalu. Sebenarnya masalah tersebut sangat sederhana, mungkin kalau bisa bertemu Anda dan saya ceritakan, Anda pasti akan tertawa sinis. “Kok begitu aja repot? Kok begitu aja sampai jadi masalah?”

Yah namanya juga manusia, kadang masalah yang kecil bisa jadi besar, masalah besar malah disepelekan. Berhubung saya seorang pemikir, over-thinker malah, makanya hal ini sempat menjadi masalah buat diri saya selama beberapa bulan terakhir. Saya pribadi bukan tipe orang yang menyimpan masalah sendiri, I did share this problem to some friends, and asked for their advice.

Tapi ya gitu, memang dasar orangnya keras, saya tetap belum menyelesaikan masalah tersebut sampai berbulan-bulan. Padahal saya tahu, kalau tidak saya selesaikan, entah sampai kapan saya akan terus berkutat dengan masalah ini. Entah sampai kapan saya diam lalu berpikir, lalu sambil makan sambil berpikir, sambil menonton televisi sambil berpikir. Yes, it is. Seringkali itu yang terjadi jika saya sedang ada masalah, raganya di mana, jiwanya di mana.

Terlalu dipikirin. Well, because it matters.

Hampir semua teman saya berargumen sama. Sampai akhirnya saya dihadapkan dengan sebuah momen yang pas, di situ saya sedikit mendorong diri saya untuk belajar menahan ego, sedikit mengurangi self-defense, dan belajar sabar agar bisa menyelesaikan masalah ini. Terang saja saya tidak mau punya masalah yang menahun, maka dari itu sedikit demi sedikit saya mulai melakukan monolog dengan diri saya (iya, saya memang suka begitu :p), kapan mau mengurangi ego, kapan mau berinisiatif, kapan ini, kapan itu?

Lalu saya jawab, “Sekarang.”

One thing led to another, saya akhirnya menyelesaikan masalah yang saya hadapi. Tidak pernah terpikir sebelumnya kalau semua berjalan cepat, singkat, tanpa ada halangan. Saya pikir mungkin akan cukup rumit untuk menyelesaikan masalah ini, tapi ya begitu… kenyataannya semua dimudahkan, semua disediakan.

Lega.

Saya sampai bingung harus pakai kata apa lagi yang mendeskripsikan perasaan saya kala itu. Sekarang saya merasa lepas, selesai, dan berdamai dengan masalah tersebut dan dengan diri saya sendiri. Saya bisa bilang kalau semua hal yang saya dapat sekarang ini adalah buah dari kesabaran. Kalau saja masalah tersebut tidak seberat ini, mungkin saya tidak akan menghargai yang namanya sabar dalam menghadapi masalah, tidak menyepelekan sebuah masalah, mengalah, dan tentu saja berdamai dengan diri sendiri.

Saya percaya masalah muncul bukan tanpa tujuan, karena masalah mengajarkan hal-hal baru yang sebelumnya tidak pernah kita perhatikan. Yes, I did learn about patience before, tapi kalau bukan karena masalah ini, mungkin saya tidak akan belajar menjadi sabar dan pengalah. Saya juga belajar untuk berserah lewat masalah ini, I did lots of conversation with The Author, saya sempat bilang kalau saya sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya agar keluar dari masalah ini. Semua terlihat sangat mustahil, sampai Ia tunjukkan sebuah momen dan menyentil serta berbisik, “Sekarang waktunya, Fin.”

Well, jika saya boleh mengulang waktu, ingin sekali rasanya kembali ke belakang, agar masalah ini tidak usah pernah ada. Kalaupun ada, saya tidak akan mengulur waktu sampai selama ini untuk menyelesaikannya. Tapi di satu sisi, kalau saya tidak mengulur-ulur, saya tidak akan belajar sebanyak sekarang dong?

Dasar manusia! :p

Ciao,

Finley Susanto

905a09d7d8f577ac18d36bbed8544d44

Leave a Reply